Archive for June, 2006

Tuan, di manakah kamu berada saat diantara bel masuk, istirahat, dan pulang sekolah? Apakah saat kau di dalam kelas hanya asik memikirkan kapan bel istirahat dan pulang sekolah?

Sunday, June 4th, 2006

Jika mengikuti The Upstairs yang punya judul panjang ‘apakah aku berada di mars atau mereka mengundang orang mars’ maka judul saya juga akan membuat judul panjang seperti ini :
Tuan, di manakah kamu berada saat diantara bel masuk, istirahat, dan pulang sekolah? Apakah saat kau di dalam kelas hanya asik memikirkan kapan bel istirahat dan pulang sekolah?

Saya tidak habis penasaran sama penulisan sebuah nama lapangan di sebuah kota.
Lapangan yang dipakai untuk pertandingan bola, konser band, dan beberapa acara yang biasanya dihadiri penonton yang membludak.
Perlu saya sebutkan? Jika melihat tulisan ‘keboen sajoek’ kamu yang berada di kota tersebut tentu tidak asing lagi ya.
Dulu saya merasa asing mendengar penyebutan nama ini karena saya tahunya lapangan itu bernama psp saja, bukan pula kepanjangan dari pancaran sinar petromaks.
Bukan masalah nama dulu atau nama sekarang.
Tapi masalah penulisan yang digunakan sebagai nama yang sekarang cukup annoying (setidaknya bagi saya).
Sebagaimana yang diketahui dan disebut oleh masyarakat kota bahwa itu akan dilafal dengan lapangan kebon sayok (sesuai dengan pelafalan orang melayu yang sebagian besar menghuni kota ini). Tapi yang saya herankan kenapa ditulis dengan Keboen Sajoek?
Kalau ditelaah secara penulisan ejaan lama tentu ini akan dilafalkan dengan Kebun Sajuk.
What is Sajuk?
Sebagaimana saya mendapat informasi, memang ada bahasa melayu bahwa Sajuk itu semacam artinya ‘gigit jari’. Misalnya ‘simpan tuh henpon, hilang nanti baru sajuk’
Kebun Gigit Jari? (oh kok aneh sekali)
Dan informasi yang saya dapat adalah bahwa lapangan itu dulunya adalah kebun sayuran.
Sayuran menurut bahasa melayu dilafalkan dengan ‘sayok’ dan kalau mau ditulis dengan ejaan lama maka tulisannya akan menjadi Sajok, bukan Sajoek.
Melihat tulisan Keboen Sajoek malah sepertinya tidak Indonesia dan juga tidak Melayu, malah seperti tulisan slang.
Apakah pemerintah kota mulai menggunakan bahasa ‘slang’?
Atau apakah pemerintah tidak bisa membedakan ejaan lama dengan EYD?
Kalau mau ejaan lama ya Kebon Sajok seharusnya (baca : Kebon Sayok)
Kalau mau menggunakan EYD maka harusnya Kebun Sayur.
Kalau mau menggunakan Ejaan lama tapi meng-Indonesia, maka harusnya Keboen Sajoer (baca: Kebun Sayur)
Kalau mau menggunakan Ejaan lama tapi Melayu, maka menjadi Kebon Sajok (baca: kebon Sayok)
Kebon Sayok, itulah yang awamnya dilafalkan masyarakat kota.
Lalu yang saya pertanyakan adalah….kenapa tulisannya Keboen Sajoek?

Setiap membaca spanduk, leafet, pamflet, seperti ada yang mengganggu di otak saya dan kemudian membuat saya berpikir, What the hell of Keboen Sajoek?
Sir, it so annoying.

04 Juni 2006
00.09
ketika pikiranku mulai terganggu
my incubator
tiara amalia

coffeine, please!

Saturday, June 3rd, 2006

saya kira akan tidak apa-apa saat tidak melakukan ritual seperti biasanya di pagi hari.
ternyata salah!
pusing-pusing itu segera kambuh di pukul 11.
perasaan gak enak dan seperti ada yang hilang.
saya menyesali dosa saya karena tidak melakukan ritual itu.
saya kerap tidak ingin mengulanginya.
tapi karena bangun yang telat, buru-buru atau ternyata barang yang saya perlukan habis dan saya males beli karena buru-buru maka saya harus menerima akibatnya sebelum tengah hari hingga saya tidur di malam hari.
penundaan jika dikonsumsi pada saat sudah pusing-pusing itu tidak mengurangi penderitaan saya sedikitpun.
saya jadi berpikir dua kali untuk berhenti minum kopi.
hidup saya akan berantakan!