Tuan, di manakah kamu berada saat diantara bel masuk, istirahat, dan pulang sekolah? Apakah saat kau di dalam kelas hanya asik memikirkan kapan bel istirahat dan pulang sekolah?
Jika mengikuti The Upstairs yang punya judul panjang ‘apakah aku berada di mars atau mereka mengundang orang mars’ maka judul saya juga akan membuat judul panjang seperti ini :
Tuan, di manakah kamu berada saat diantara bel masuk, istirahat, dan pulang sekolah? Apakah saat kau di dalam kelas hanya asik memikirkan kapan bel istirahat dan pulang sekolah?
Saya tidak habis penasaran sama penulisan sebuah nama lapangan di sebuah kota.
Lapangan yang dipakai untuk pertandingan bola, konser band, dan beberapa acara yang biasanya dihadiri penonton yang membludak.
Perlu saya sebutkan? Jika melihat tulisan ‘keboen sajoek’ kamu yang berada di kota tersebut tentu tidak asing lagi ya.
Dulu saya merasa asing mendengar penyebutan nama ini karena saya tahunya lapangan itu bernama psp saja, bukan pula kepanjangan dari pancaran sinar petromaks.
Bukan masalah nama dulu atau nama sekarang.
Tapi masalah penulisan yang digunakan sebagai nama yang sekarang cukup annoying (setidaknya bagi saya).
Sebagaimana yang diketahui dan disebut oleh masyarakat kota bahwa itu akan dilafal dengan lapangan kebon sayok (sesuai dengan pelafalan orang melayu yang sebagian besar menghuni kota ini). Tapi yang saya herankan kenapa ditulis dengan Keboen Sajoek?
Kalau ditelaah secara penulisan ejaan lama tentu ini akan dilafalkan dengan Kebun Sajuk.
What is Sajuk?
Sebagaimana saya mendapat informasi, memang ada bahasa melayu bahwa Sajuk itu semacam artinya ‘gigit jari’. Misalnya ‘simpan tuh henpon, hilang nanti baru sajuk’
Kebun Gigit Jari? (oh kok aneh sekali)
Dan informasi yang saya dapat adalah bahwa lapangan itu dulunya adalah kebun sayuran.
Sayuran menurut bahasa melayu dilafalkan dengan ‘sayok’ dan kalau mau ditulis dengan ejaan lama maka tulisannya akan menjadi Sajok, bukan Sajoek.
Melihat tulisan Keboen Sajoek malah sepertinya tidak Indonesia dan juga tidak Melayu, malah seperti tulisan slang.
Apakah pemerintah kota mulai menggunakan bahasa ‘slang’?
Atau apakah pemerintah tidak bisa membedakan ejaan lama dengan EYD?
Kalau mau ejaan lama ya Kebon Sajok seharusnya (baca : Kebon Sayok)
Kalau mau menggunakan EYD maka harusnya Kebun Sayur.
Kalau mau menggunakan Ejaan lama tapi meng-Indonesia, maka harusnya Keboen Sajoer (baca: Kebun Sayur)
Kalau mau menggunakan Ejaan lama tapi Melayu, maka menjadi Kebon Sajok (baca: kebon Sayok)
Kebon Sayok, itulah yang awamnya dilafalkan masyarakat kota.
Lalu yang saya pertanyakan adalah….kenapa tulisannya Keboen Sajoek?
Setiap membaca spanduk, leafet, pamflet, seperti ada yang mengganggu di otak saya dan kemudian membuat saya berpikir, What the hell of Keboen Sajoek?
Sir, it so annoying.
04 Juni 2006
00.09
ketika pikiranku mulai terganggu
my incubator
tiara amalia
June 5th, 2006 at 6:43 am
huehehehe,,, kayaknya judul itu cocok banget dgn saya,,, sekolah emang jd kayak neraka bgt buat saya, karena cuma senyum2 munafik yg saya beri buat guru2 picik yg menilai saya anak tidak baik hanya karena dandanan saya sedikit idealis… so sad
June 7th, 2006 at 5:30 am
not bad to be idealist loch..hehhe. tapi menurut kamu..gimana tuh nama lapangan? ganggu banget sih di otak saya